Example floating
Example floating
BERITAPEMERINTAHANPERISTIWA

Kepala BRIDA NTB: Kabupaten Dompu Dijadikan Kawasan Tebu Nasioanal, Modal Awal Meningkatnya Ekonomi Masyarakat

94
×

Kepala BRIDA NTB: Kabupaten Dompu Dijadikan Kawasan Tebu Nasioanal, Modal Awal Meningkatnya Ekonomi Masyarakat

Share this article

Mataram, PusaranBerita.com

Penetapan Kabupaten Dompu sebagai kawasan tebu nasional oleh Kementerian Pertanian pada 2024 dinilai sebagai modal awal.
Namun, langkah strategis berbasis data dan inovasi mutlak diperlukan untuk mengubah status administratif ini menjadi realitas ekonomi yang berkelanjutan.

Menanggapi antusiasme berbagai pihak, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) NTB, I Gede Putu Aryadi, menyatakan kesiapan lembaganya untuk berkolaborasi melakukan riset mendalam guna mendukung pengembangan komoditas andalan baru tersebut.

“Ini harus dilakukan melalui riset. Harus berdasarkan data dan informasi kondisi lahan, luasan, serta kemungkinan pengembangan komoditi tebu dengan teknologi yang dapat meningkatkan hasil,” tegas Aryadi, mengutip pemberitaan LombokPost/Jawapost pada Rabu kemarin.

Ia mengakui bahwa penelitian spesifik mengenai budidaya tebu di lahan kering Dompu masih sangat terbatas.

BRIDA sendiri selama ini lebih fokus pada komoditas lain yang dianggap lebih adaptif seperti kacang sanci dan kurma.

“Untuk tebu, yang perlu kita lakukan ke depan adalah riset tentang kondisi tanah, pola pemasaran, dan yang terpenting adalah integrasi dengan sumber air. Tebu tetap membutuhkan air, tidak bisa mengandalkan lahan kering terus-menerus,” jelasnya.

Aryadi menekankan, 80 persen lahan di NTB merupakan lahan kering sehingga pemanfaatannya memerlukan strategi dan teknologi khusus.

Pengembangan tebu bisa menjadi solusi pemanfaatan lahan kering yang produktif, asalkan didukung riset yang komprehensif.

Ia juga menawarkan konsep integrasi yang sinergis dengan sektor peternakan, yang juga merupakan potensi unggulan Dompu.

Limbah kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat dibutuhkan untuk budidaya tebu yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Aryadi juga menyoroti pentingnya membangun hubungan industrial yang harmonis antara petani dan pabrik gula.

“Ini harus dijaga. Jangan sampai petani menanam dalam jumlah besar, tetapi pada saat panen harganya dimainkan. Jangan hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga harus menguntungkan petani,” tegasnya.

BRIDA, dipastikannya, siap berkoordinasi dengan semua pihak untuk menyiapkan petani dengan teknologi budidaya yang benar dan memastikan adanya perlindungan yang seimbang.

Diketahui, data dari Bappeda NTB menunjukkan potensi lahan tebu yang masih sangat besar untuk digarap.

Di Dompu, dari total potensi lahan tanam seluas 10.873 hektare, baru 3.350 hektare yang digarap, tersebar di Kecamatan Pekat, Kempo, dan Manggelewa.

Artinya, masih ada 7.523 hektare lebih yang masih menganggur.

Sementara di Kabupaten Bima, dari potensi 1.743 hektare di Kecamatan Sanggar dan Tambora, yang baru ditanami sekitar 102 hektare.

Beberapa petani tebu di Dompu yang diwawancarai Lombok Post mengakui bahwa komoditas ini justru lebih menguntungkan, tidak hanya dari sisi nominal pendapatan tetapi juga kemudahan perawatan dan kepastian pasar.

Mereka berharap pemerintah mendorong sosialisasi manfaat bertanam tebu dan membantu mengoptimalkan potensi lahan yang masih terbuka lebar.

Selain itu, pelayanan dari pabrik gula juga perlu ditingkatkan, terutama dalam hal kemudahan pengantaran hasil panen untuk meringankan biaya tambahan yang membebani petani.

Dengan dukungan riset yang solid dan komitmen semua pihak, mimpi Dompu menjadi pusat produksi gula nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan bukan sekadar wacana.(Lmbkpost)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *